Showing posts with label Kata. Show all posts
Showing posts with label Kata. Show all posts

23.10.17

rasa

dalam sirkuit ini mengalir deras eunoia
derajat lengkung bibir selalu begitu adanya
euforia itu tidak habis-habis rasanya
mata terbuka dan tertutup sama indahnya

untuk jalan ini, aku tak tau lagi apa itu menyerah
aku tak tahu lagi bagaimana rasanya payah
sampai tidak sanggup pikir mengambil langkah
aku tak tahu lagi bagaimana rasanya jengah

pemakluman bukan lagi sebuah keterpaksaan
ia datang karena kehadiran baris ketulusan
untuk berkata mengerti tanpa unsur rekaan,
suatu pencapaian dengan kepayahan

-Lana-

9.9.17

semoga apa yang mereka lihat sebagai derita, tidak jadi secuil pun beban untuk kebesaran hatimu.

-Lana-

5.8.17

dead soul

it used to be a pleasant place to visit.
your number one favorite tower full of affection and attachment.
it used to be.
many things happened.
many things have changed.
we're getting older.
we're changed too.
and you're changed too.
the building, now it's too far away to go to.
you didn't have enough excitement to pay a visit tho.
in a rare time when you're alone and lonely,
you would thought that as a nice place to visit.
it just so beautiful from afar.
even in a dusty picture it looked sublime.
once you went there, there were nothing to see.
you realised it just a wreckage.

abandoned building with no soul.

-Lana-

3.8.17

caring heart

some people are cruel, but some other people are really nice. I know you know. not everyone have the heart you had. not everyone as kind as you. and not everyone will appreciate your kindness. some people just too busy with their own life. sometimes they forget to be grateful about the tiny things – and just pay attention to the big thing. but nevermind. I never really care if everyone won’t appreciate my kindness. I did it with no thought of any reward anyway. no matter how small; even just come to my friend’s ‘big day’ and give a little present, support my friend’s band by buying their record or just come to their gig, help my friend’s assignment, randomly ask how’s their life lately, bring some snack for my office mates, listen to my friend’s complain about life; and another not-so-big-act-of-kindness. don't you ever tired of being nice to people and try to make them happy. I do it cause it makes me happy. some people tired for everyone who they’ve been there for but haven’t been there for them. but I don’t really give a fuck. well, if you hate being a nice person cause you’re exhausted, then don’t be. you just being cruel to yourself. throw away yourself for doing something you don’t really want to do? nah. my mother once told me, don’t live your life just for yourself. and I’m trying to live my life that way.

-Lana-

13.7.17

yang tak pernah cukup

Sekali saja aku lupa mengunjungimu, Nyonya. Namun kau bilang aku sudah tidak peduli padamu. Beribu kunjungan itu hilang artinya. Kau bilang pada mereka, bahwa aku sering melupakanmu. Kau bilang aku sudah kehilangan bakti. Bah!

Sekali aku memuji dirinya, kau bilang aku terlampau berlebihan memperhatikan wanita. Nona, apakah kau tidak ingat puja-puji dan kata manis yang setiap hari aku layangkan padamu? Dibandingkan dengan semua perkataan tulusku untukmu, pujianku untuk wanita itu tidak bisa dijadikan tandingan!

Sekali melakukan keburukan, seluruh kebaikan seakan terlupakan. Semua dedikasi yang mereka jalani sepanjang hidup, semua kebaikan yang mereka berikan untuk banyak orang, hanya dianggap memori yang sudah berlalu. "Sekali salah tetap bersalah!"

Berjuta pasang mata itu hanya melihat satu titik hitam dari luasnya hamparan dataran putih. Apakah kamu sudah merasa cukup adil dalam pikir dan lisanmu?

-Lana-

2.3.17

kisah usang

di jalanan yang tenang, 
pikiran berlalu lalang.
di jembatan yang senyap, 
mulut sungkan berucap. 
segala yang dikenang, 
tak lagi terhubung benang. 
memori mulai menggelap, 
lupakan yang pernah diungkap. 
air mata yang menggenang, 
kini kerak kering kerontang. 
menyusut mata yang sembap, 
berpendar kisah yang cakap.


-Lana-

17.1.17

sejuta ketakutan

satu langkah kaki, hilang satu ketakutan. dua langkah kaki, hilang dua ketakutan. tiga langkah kaki, hilang tiga ketakutan. untuk sampai ke tempat ini, ternyata aku telah meninggalkan ribuan ketakutan. ternyata aku masih hidup. ternyata mudah saja melakukannya. ternyata cuma begitu cara melompati ketakutan. kau benar, mungkin selama ini aku cuma malas saja. puluhan tahun aku hidup, begitu banyak yang terlewat. ya, semua karena sesuatu yang tak tampak. aku pikir aku tidak akan pernah bisa mengetahui siapa penghuni rumah di atas bukit itu. aku pikir aku tidak akan pernah keluar dari perkampungan ini sepanjang hidupku. aku pikir aku telah cukup melihat dunia. aku pikir aku tidak perlu siapa-siapa karena hidupku begitu mudah. aku pikir kenyamanan ini sejak lama telah membentengi keberanianku. jika saja aku tak membukakan pintu ketika kau mengetuk, saat ini aku masih berkawan dengan sejuta ketakutan.

-Lana-

15.1.17

feelin alrite

"careless, not hopeless, you can't bring me down. but I know too many reasons to fight. so glad that I have you on my side, I've taken my time" 
- Warpaint

jika saja hidup memang tentang keseimbangan, aku bersyukur memiliki sisi gelap dan terang. mana saja yang diperlihatkan, mana saja yang terlihat, mungkin itu penting. di mataku, di matamu, mungkin itu sebuah persoalan. menjadi rahasia bersama, menjadi rahasia sendiri, mungkin tidak butuh kesepakatan.

bukan pembiaran yang aku berikan untukmu. bukan kepasrahan yang aku tunjukkan padamu. tak terhitung seberapa banyak perlawanan berbuah kemenangan. butuh kepura-puraan sampai tak lagi kurasa penyesalan untuk semua kegagalan itu. kau tau, betapa berbahayanya dirimu sendiri ketika hati menggelap tanpa kau tentang.

banyak alasan untuk berbuat jahat. banyak alasan untuk mendendam. banyak cara pula untuk menyakitimu. banyak cara pula untuk menyakiti kalian. kau tau, jika aku tak punya hati, aku bisa saja membuatmu menderita.

selama keseimbangan keduanya terjaga, tidak akan ada yang terluka karenaku.

-Lana-

9.1.17

mimpi tak berkesan

rimbunnya hujan memudar sejenak. seiring bersautannya rona matahari. seperti mimpi tak berkesan di malam hari. semua semu dan mudah terlupa. siklus janggal yang tak aku mengerti. membuatku sakit terbatuk-batuk. aku kira ini hari-hari kesukaanku. bukan, ternyata bukan hari kesukaanku. kadang lelehan perak itu datang bertubi-tubi, tinggalkan kilauan memukau menyedihkan. kadang gelap merayap cepat, sampai ku tak lihat kilau nyata miliknya. esok siapa yang tau? bak api ungun raksasa ia datang dari timur. membakar hati dan rekahkan senyum di wajah ini. selanjutnya semua berulang, seperti mimpi tak berkesan di malam hari. semua semu dan mudah terlupa.

18-05-10

-Lana-

8.1.17

phases

once it was there. now it isn't. once it was blooming. now it's withered. once the love was there. now it isn't. all the good things left behind. all the good things covered with dust. the main thing has gone. all the good memories become wretched remnants we don't want to touch. and all the bad memories can't make you aching at all. there's no point to bear with it.

once it was there. now it still. once it was blooming. now it's breeding. once the love was there. now it still. all the good things stay in present. all the good things grow bigger. all the good memories can make the nicest ticklish feeling. and all the bad memories become reminder about how grateful we're cause we've passed all the hardships and shitty phases in life.

-Lana-

7.1.17

nona banyak alasan

kulit terasa lengket, udara di kota ini jauh lebih panas dibandingkan kota lain yang pernah ia datangi. maklum saja, lokasinya dekat pantai, kota pelabuhan juga. meskipun demikian, saat itu sama sekali tak ada waktu menginjakan kaki di pesisir pantai yang jaraknya tak sampai lima kiloan.

ia menelusuri setiap gang tanpa binar mata. alih-alih bernostalgia, tujuannya ke sana adalah untuk menimpa memori yang sebelumnya melekat di jalanan kota itu. baginya, tak ada kenangan yang bisa terhapus. ia cuma bisa menggantinya dengan memori baru. sesuatu yang baru hampir selalu berhasil membuat usang barang lama. peluangnya cukup besar; ketimbang resiko gagal.

tak lama setelah pantulan sinar matahari pagi terlihat di polder, mereka berjalan tanpa tau mesti ke mana. dengan mata sembap, keduanya tak mau saling tatap ketika bicara. setelah membumbui hubungan mereka dengan orang ketiga berkali-kali, si nona minta menyerah saja. padahal ia sudah jumpalitan melakukan segala hal untuk bertahan.

tak kuat menahan rindu. tak kuat menahan nafsu. begitu kesimpulan yang bisa ia ambil dari alasan-alasan si nona. muncul pula kalimat, bahwa nona sudah lelah terus-menerus mendosa. padahal, sejak awal mereka tanpa perjanjian telah mengiyakan untuk tidak mengindahkan norma. pembuktian di hadapan agama atau negara, itu urusan belakangan, yang penting semua bisa berjalan sesuai kehendak mereka.

memori tentang perbincangan itu kini telah tertimpa. ia sudah cukup lega. tuntas sudah satu hal yang mengganjal itu. habis sudah peduli untuk si nona.

sementara di barat sana, nona malah menjilat ludahnya sendiri. ia menahan rindu dan menahan nafsu, lalu tidak mengindahkan norma. pembuktian di hadapan agama atau negara, itu urusan belakangan, yang penting semua bisa berjalan sesuai kehendak nona dan lelaki yang kini setiap kali ada kesempatan dicumbuinya.

-Lana-

6.1.17

dinding batasan

"santai, jangan terlalu dipikirkan".

dalam prakteknya, ternyata bukan itu yang aku butuhkan. ketimbang berpusing ria mencoba menerapkan kalimat sederhana itu, aku mencoba kalimat dengan formula lain: aku harus sadar untuk berhenti dan merasa cukup. ya, untuk berbagai hal.

kau tau, kekhawatiran akan segala hal seringkali datang. bagaimana jika semua tidak berjalan sesuai rencana? bagaimana jika aku melukai perasaan orang lain? bagaimana jika keputusan yang aku ambil ternyata keliru? bagaimana jika... kedua kata itu, 'bagaimana jika' menjadi kompor yang selalu berhasil membuat badan panas dan berkeringat. cukup nona, tidak akan ada sesuatu yang berubah jika kau terus-menerus melontarkan pertanyaan itu.

kesedihan adalah cerita lainnya. tanpa alasan yang jelas, semua menjadi serba salah. semua bikin sedih. tanpa mempertanyakan satu hal pun, hati terus-menerus dirundung rasa sedih. ini cuma permulaan. segala pencapaian yang gagal diraih berdatangan. segala percobaan yang berujung kekecewaan di mata orang lain mulai menjangkit pikir. segala perkataan yang menyakitkan hati di masa yang sudah lewat terngiang kembali. cukup nona, kesedihan itu sudah terlampau menguasaimu. kesedihan itu sudah cukup mengimbangi rasa bahagia yang kau rasa saat ini. tidak apa merasa sedih, sebentar saja.

kemarahan adalah cerita selanjutnya. tatapan sinis itu sungguh mengganggu. bisik-bisik menyakitkan yang tak sengaja kau dengar itu membuat panas hati. pengulangan kesalahan yang mereka perbuat membuatmu jengah. pertanyaan klise dari orang yang tak mengerti pola pikirmu membuatmu merasa terancam. cukup nona, alokasi emosimu untuk hal ini sudah di ambang batas. biar lah mereka yang tak paham menjadi angin lalu. dalam waktu satu menit, kehidupan kembali bergulir.

-Lana-

5.1.17

sisi gelap

"ceritakan sisi gelapmu, maka aku akan menerimamu seutuhnya".

bagian paling tajam sekaligus paling dasar dari hatinya berwarna biru kehitaman. dalam hatinya, ia menyimpan dendam. dalam hatinya, ia merangkai rencana busuk. hanya rasa sakit dari orang yang dibencinya yang bisa membuat puas diri. ia bisa melakukan apapun yang dimau. tidak ada batasan norma yang akan menghalanginya. lagipula, tak ada ruginya buat dia ketika orang lain terluka. itulah yang ia tuju, itulah yang memuaskan dahaganya. kesakitan yang pernah dirasa orang yang dicintainya, akan terbayar sudah dengan rencana yang tak lama lagi akan berjalan mulus.

"penuhi segala ingin dari sisi gelapmu, maka aku akan meninggalkanmu".

kau tau, apa yang ia katakan untuk kedua kali setelah sisi gelapnya terungkap? ya, seperti yang telah kuduga. ia tidak akan mengizinkan tuan putri kesayangannya itu berlaku jahat. ternyata ada juga cinta dengan rasionalitas. ketika orang yang ia kasihi tak lagi mencintai sesama manusia, hal yang akan ia lakukan adalah meninggalkannya. apa artinya segala dendam itu, apa yang perlu dibalas? semua sudah ditimpa jutaan debu dan tak tersentuh lagi. apa yang terjadi di masa lampau, biar karma yang membalasnya. tak perlu kau repot mendendam dan menyusun rencana busuk, tuan putri.

-Lana-

1.1.17

pelarian

kenapa kau menyukai perasaan itu, tuan? kau tenggak uangmu dari bergelas-gelas minuman itu. perjalanan singkat yang kau rasa dalam kepala, hanya berlangsung selayang lalu. kau mengapung nikmat di antara realita dan alam yang tak ada. kau tenggak lagi uangmu sampai di luar batasan diri. yang kau cari, yang kau rasa, pelarian ringkas itu, berakhir dengan singkat. repetisi dari semua perjalanan itu, aku tau kau menyukai sekaligus membencinya.

kenapa kau menyukai perasaan itu, nona? kau tukar uangmu dengan berlembar tiket dan ranjang pelepas penat. perjalanan singkat yang kau rasa dengan raga, hanya berlangsung selayang lalu. kau menginderai tempat-tempat asing itu dengan suka cita. kau memijakan kaki dengan eunoia tak terhingga. kau ambil citra diri untuk dipertunjukkan kepada sosok-sosok familiar. kau ambil citra untuk kau jadikan pelipur lara. pelipur lara, ketika kau mesti kembali menginjakan kaki dalam keseharian. repetisi dari semua perjalanan itu, aku tau kau sangat menyukainya. tapi, tidak sebesar kau menyukai kehidupanmu yang nyata.

orang kota sangat suka lari dari keseharian. apalah beda dari kedua perjalanan itu, tuan, nona. jerih payah itu habis dalam waktu singkat. pelarian selayang lalu di luar rutinitas yang kau cintai dan kau benci.

-Lana-

11.9.16

pandangan

"why she keep staring at us?"
"maybe she's just jealous to us".

terkadang pandangan hanya pandangan. tak lebih dari itu. bagaimanapun cara mu mengartikan pandangan orang lain, terserah. merendahkan, meninggikan, tak masalah. apa yang kamu nilai dari sebuah pandangan, adalah persepsi mu sendiri terhadap mereka. apa yang kamu simpulkan dari persepsi mu, adalah nilai dari proses berpikir yang kamu lakukan. jika kalimat itu secara instan terlontar dari mulut mu, anggap saja aku lebih rendah dari mu. aku peduli, tapi hanya sesaat. selanjutnya perkataan mu hanya tinggal sesuatu yang tak bernilai di masa depan. karena kita hanya lah sesama orang asing.

-Lana-

5.7.15

. . .

Hamparan luas tanah berlimpah daya,
aku tidak pernah memintanya datang ke sana.

Tak sedikitpun rayu itu ku andaikan,
menjadi tafsir yang baku bagimu.
Seluruhnya semata-mata kejenakaan,
seperti yang kau sampaikan juga pada mereka.
Segala kebaikan dari laku ini,
adalah ketulusan cuma-cuma untuk sembarang orang,
dan kau bukan sebuah pengecualian.
Dalam sayu sanubari, terkadang aku simpan setitik pamrih,
dari semua presensiku di sekitarmu.

Pada akhirnya, titik itu berkali-kali memudar dan menebal.

Percaya lah, itu hanya afeksi halus,
yang nantinya lenyap seiring waktu.
Sesungguhnya, aku belum bisa menyimpulkan,
keberadaan telak sebuah rasa tanpa lalu.
Maka, aku memilih berdiri di atas pembiaran.
Kenyataannya, meskipun aku memilih berpijak di sana,
tidak ada yang beralih dalam tumpuan.
Adalah candu yang tak terelakan,
ketika segala percobaan itu tak berujung pada apapun.
Kita ada untuk menunggu kita yang lain.

Akan ada sebuah kalimat, pada sebuah tenggat.
Sebuah pemecah ihwal tak berwujud.
Ketika semua kalut menjadi lugas.

Dan aku sungguh berterimakasih,
akan keberpihakan alam,
pada kita.

Semua konsepku tentang afeksi,
terbantahkan.

Kau datang dengan sendirinya tanpa bujukan.




-Lana-

30.1.15

bayang dari telapak

gamang, bagian dari bayangmu
bersama takut dan risau dia berkubu
dalam terang ia menghantui
dalam remang ia memburu
muncul dari telapak dan berkuasa
membuatmu jatuh ke dalam palung
daratan atau lautan sama saja
mematikanmu lewat pikir yang kalut
sampaikan yang semestinya pada logika
belas kasih tak akan bekerja untukmu

dalam temaram bayang lenyap
ia butuh cahaya untuk tercipta
sisi mana yang kamu lihat, tuan?
ada pelik dalam benderang
ada kasih dalam gulita
semua tertukar karena tak melihat.

-Lana-

23.12.14

Pilihan Ketiga

Dari sisi mana aku harus mengambil kesimpulan untuk percaya, aksara yang keluar dari pikiranmu atau laku dari ragamu? Dari sisi mana aku harus mengambil kesimpulan akan kejujuran, sorot mata tiap kali kita bertemu pandang atau tangan yang bergerak ke sana ke mari kala bertegur sapa? Dari sisi mana aku harus mengambil kesimpulan untuk tinggal, kehadiran di saat tak terduga atau ketiadaan di saat aku menginginkannya? Dari sisi mana aku harus mengambil kesimpulan untuk setuju, aturan main yang ada sejak lama atau cara pikir yang secara eksplisit kau tawarkan? Dari sisi mana aku harus mengambil keputusan, kebahagiaan dalam sisi gelap atau kepiluan yang nyata? 

Dari sisi yang belum ditemukan, ada jawaban yang menerawang mencarimu.


-Lana-

7.6.14

mereka adalah selarap penggulung waktu



"Then one year, oh how far we strayed so far from home. No one knew just how far we went."
- Lyla Foy


Sekarang mereka bertemu lagi,
dengan potongan rambut yang sama,
seperti bulan kelima tahun lalu
Umur melaju
Satu dan dua hal kasatmata,
selebihnya tak ada bentuk hirau dari sekitar
Ketidaktahuan adalah sebuah awal
Peti terbuka, sekarang mereka bebas
mengambil dan menyimpan kesenyapan
Tak apa, dia memercayainya
Nalar simetris, namun kadang terbelokan
layaknya benda padat menembus air dalam cahaya
Argumentasi bukan senjata pembunuh,
selalu ada wahana lain untuk rekreasi
Tak apa berangkat dan pulang lewat rute berbeda
Sungguh, ikatan itu hanyalah pertalian manusiawi yang lumrah
Istimewa terlahir karena sudut pandang,
ia justru bisa membuatmu binasa.

Aku hanya lah pirsawan dengan lima indera
melakukan interpretasi lewat netra dan kasak-kusuk
Aku hanya lah persona berlimpah pana,
yang menggaruk kepala kala menilik keselarasan
dari sepasang manusia manasuka
Kawan sejawat menyuarakan sanjungan,
pada mereka yang terlihat elok dalam padanan
Apakah semua itu antitesa dari iri hati?
Keinginan tak terjangkau dipindang menjadi puji
Mereka merayau sampai titik kecil untuk raih kemujuran
Aku, kembali ke sarang, ayal.

Aku tau, mereka bagai selarap penggulung waktu
Ada loka yang membenamkan mereka
dan aku tidak bisa ikut di sana
Semata-mata hanya mengangguk dan bersoal
Mereka terbahak bersama, jelak, riang,
dalam kelambu samar di luar pemahamanku
Buang saja eksistensi kami, tuan, nona.

Aku ada dalam mereka,
meleleh bersama api dengan tingkat kepanasan tertentu
Angan adalah kebahagiaan yang keji
Suatu keringkasan yang membuatmu terjungkal
pada jurang kegetiran dari asa.


-Lana-